Skip to main content

Featured Post

Cara Naik Busway Untuk Pertama Kali

Blog Iman Prabawa - Hari ini saya pertama kali menggunakan busway untuk menuju ke kampus baru saya di Universitas Darma Persada. Karena saya mengalami kecelakaan motor maka saya sekarang tidak  lagi menggunakan motor, karena sudah menjadi trauma, kecelakaan motor ini membuat tangan kanan saya patah dan harus dipasang besi pen di tangan kanan saya ini.

Nah karena hari ini pertama kali saya menggunakan busway, saya mau sharing aja, karena saya yakin juga masih banyak juga yang belum pernah naik busway seumur hidupnya seperti saya dan ketika ingin naik busway kemudian bertanya kesana dan kesini.


Semoga sharing dari pengalaman saya naik busway untuk pertama kali ini bisa bermanfaat untuk teman-teman yang seperti saya, yang baru pertama kali ingin menggunakan transportasi busway ini.

Beli E-Ticket Terlebih Dahulu Nah sebelum saya naik busway tentunya saya bertanya-tanya dulu sama teman-teman saya yang sudah pernah menggunakan dan pernah naik busway. Dulu saya pernah satu kali diajak teman …

Museum Komodo dan Taman Reptilia

Blog Iman Prabawa - Bagi pencinta satwa maupun anda yang ingin mengajarkan anak agar menyayangi satwa, inilah tempat yang tepat untuk melihat, belajar dan berinteraksi langsung dengan hewan, terutama reptil khas Indonesia.

Mengenal Lebih Dekat Fauna Indonesia

Di kompleks Taman Mini Indonesia Indah yang lua, terdapat seekor komodo raksasa. Sisik di sekujur tubuhnya berwarna gelap. Tubuhnya yang menjulang berdiri kokoh menghadap ke utara. Komodo sungguhan? Bukan! Komodo berlapir tembaga dengan panjang 72 meter, lebar 25 meter, dan tinggi 23 meter ini adalah replika biawak raksasa khas Indonesia yang dijadikan bangunan Museum Fauna Indonesia Komodo dan Taman Reptilia. Masyarakat mengenalnya sebagai Museum Komodo.



"Museum ini hadir untuk memperkenalkan kekayaan berbagai jenis fauna endemik Indonesia, baik yang hidup di darat, laut dan udara." ujar Suci Sa'adiah, Kepala Museum Fauna Indonesia Komodo dan Taman Reptilia. "Tujuan museum ini adalah agar masyarakat dan dunia tahu bahwa Indonesia sangat kaya akan satwa. Karena itu, museum ini sangat bermanfaat untuk edukasi dan rekreasi, juga wahana konservasi agar satwa-satwa ini tidak punah," jelas Suci.

Di dalam bangunan museum dua lantai yang menempati area seluas 1 hektar ini, terdapat sekitar 500 spesimen satwa opset (satwa mati yang kemudian diawetkan) dari 150 jenis dan koleksi reptil hidup sekitar 200 ekor dari 55 jenis.

Lantai pertama dipakai untku ruang pamer satwa opset yang disimpan dalam lemari pajang. Ragamnya banyak, ada mamalia, reptil, dan insekta. Penataan koleksi dibuat melingkar searah jarum jam. Tepat di bagian tengah, terdapat satwa opset berupa gajah, harimau, beruang dan landak. Sementara itu, di lantai dua, anda bisa menjumpai berbagai opset dari burung-burung asli Indonesia.

Dari mana satwa opset yang diawetkan berasal? Menurut Suci, biasanya hewan tersebut berasal dari penghuni museum yang sebelumnya mati karena sakit. Jadi, satwa opset ini bukan mati karena dibunuh, tapi karena sakit lalu diawetkan.

Di antara satwa opset tersebut adalah landak nokdia asal Papua yang sudah punah. Koleksi ini merupakan salah satu masterpiece musem yang banyak dicari pengunjung. Opset lain adalah harimau Sumatera, fauna lau seperti ikan, kerang, ketam, beruang madu, burung cendrawasih, dan banyak lagi.

Beberapa koleksi museum ini merupakan hibah dari masyarakat yang tidak boleh menyimpan atau memelihara satwa yang dilindungi, baik hidup maupun berbentuk opset. Setelah mengetahui bahwa satwa tertentu tidak boleh dimiliki oleh perorangan, mereka pun menyumbangkan hewan peliharaan tersebut ke museum.

Museum yang diresmikan pada 20 April 1978 awalnya hanya menampilkan berbagai fauna endemik asli Indonesia. Untuk meningkatkan daya tarik pengunjung, diresmikanlan Taman Reptilia sebagai saran penunjang edukasi dan rekreasi.

Taman tersebut terletak di pelataran gedung museum. Sesuai namanya, di tempat ini terdapat aneka reptil yang hidup dalam kandang khusu yang disesuaikan dengan habitat aslinya. Anda bisa menemukan buaya rawa, ragam ular berbisa (seperti ular phyton dan ular sanca), kura-kura, serta iguana dari Brazil. Di bagian belakang, terdapat kandang komodo yang merupakan favorit pengunjung. Di sana, anda bisa melihat dari dekat seekor komodo berusia 14 tahun dari pagar pembatas berdinding batu dengan kedalaman dua meter. Biawak raksasa ini lahir di Kebun Binatang Ragunan, lalu tumbuh dan besar di museum ini.

"Museum ini menjadi semacam show window bagi mereka yang ingin melihat komodo. Kami juga sertakan informasi bagi pengunjung yang ingin melihat komodo secara langsung ke habitat aslinya di Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur," ungkap Suci.

Fasilitas lain yang dimiliki museum ini adalah Taman Sentuh. Di sini terdapat berbagai satwa jinak yang bisa dipegang, diajak foto bersama. Jangan khawatir, satwa-satwa ini sehat dan bersih. Bahkan, anda bisa bertanya langsung mengenai perawatan hewan kepada petugas yang ada.

Museum Komodo juga menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, seperti berbagai komunitas yang peduli akan pelestarian komodo dan pencinta reptil. Bersama mereka, pihak museum melakukan aktivitas seperti coaching clinic dan edukasi seputar satwa.

Untuk perawatan reptil, Suci mengaku tidak terlalu sulit karena mereka hanya makan seminggu sekali, kecuali kura-kura yang harus diberi makan setiap hari. Pasokan makanan didatangkan khusus dari rekanan museum berupa ayam, marmut dan tikus putih, tergantung spesiesnya.

Selain perawatan yang baik dan hunian yang disesuaikan habitat asli, satwa-satwa hidup di museum ini juga dicarikan pasangan agar mereka bisa tetap bereproduksi. Di sinilah komunitas pencinta satwa diharapkan bekerja sama dengan pihak museum bila mereka memiliki pasangan satwa sejenis. Tujuannya agar satwa tersebut lestari.

Diharapkan, museum ini bisa menggugah kecintaan dan kebanggaan masyarakat terhadap kekayaan fauna di Indonesia. "Melalui museum ini, kami ingin meluruskan anggapan bahwa reptil tidak menjijikkan dan menakutkan. Reptil bisa bersahabat dengan manusia, selama mereka dirawat dan diperlakukan dengan baik, " kata Suci.

Museum ini tepat sebagai media edukasi yang baik bagi anak-anak. Tak heran jika para guru sekolah kerap mengajak siswa mereka ke sini sebagai aplikasi dari teori yang disampaikan di kelas. Di sini, siswa bisa mengenal dan melihat langsung wujud asli satwa yang mereka pelajari di buku teks.


"Di Museum Komodo, anak belajar bagaimana memperlakukan satwa, mengenal habitat aslinya, apa makanannya, apakah masih ada di alam asli atau sudah punah, mana yang berbahaya dan mana yang tidak," ujar Suci.

"Yang tak kalah penting, museum ini ingin menumbuhkan rasa cinta anak-anak terhadap sesama makhluk hidup," tandasnya.
Museum Fauna Indonesia Komodo dan Taman Reptilia
Kompleks TMII, Jakarta Timur 13560
Telp : 021-84009281
Tiket : Rp 15.000,-
Buka : Setiap hari, pukul 09.00-15.30
Sumber : Majalah Media Kawasan May 2015


Baca juga :
  1. Selamat Datang Di Kota Batam
  2. Taman Wisata Alam Mangrove
  3. Hotel Jatinangor Bandung

Comments

Popular posts from this blog

Cara Naik Busway Untuk Pertama Kali

Blog Iman Prabawa - Hari ini saya pertama kali menggunakan busway untuk menuju ke kampus baru saya di Universitas Darma Persada. Karena saya mengalami kecelakaan motor maka saya sekarang tidak  lagi menggunakan motor, karena sudah menjadi trauma, kecelakaan motor ini membuat tangan kanan saya patah dan harus dipasang besi pen di tangan kanan saya ini.

Nah karena hari ini pertama kali saya menggunakan busway, saya mau sharing aja, karena saya yakin juga masih banyak juga yang belum pernah naik busway seumur hidupnya seperti saya dan ketika ingin naik busway kemudian bertanya kesana dan kesini.


Semoga sharing dari pengalaman saya naik busway untuk pertama kali ini bisa bermanfaat untuk teman-teman yang seperti saya, yang baru pertama kali ingin menggunakan transportasi busway ini.

Beli E-Ticket Terlebih Dahulu Nah sebelum saya naik busway tentunya saya bertanya-tanya dulu sama teman-teman saya yang sudah pernah menggunakan dan pernah naik busway. Dulu saya pernah satu kali diajak teman …

Pengalaman Menggunakan Kasur Busa Inoac

Blog Iman Prabawa - Kali ini saya mau sharing sedikit mengenai pengalaman menggunakan kasur busa Inoac, yap! Untuk teman-teman yang pernah membaca tulisan saya "Kasur Angin Mudah Bocor?" tentu tahu saya akhirnya tidak lagi menggunakan kasur angin walau pun itu kasur menurut saya nyaman sekali digunakan, tapi karena kasurnya bocor dan ternyata banyak yang sudah mengalami juga kasur anginnya mengalami kebocoran, jadi saya sudah tidak menggunakan kasur angin lagi deh.

Search Kasur Busa Di Internet Karena mengalami kasur angin yang bocor dan di kamar saya ngga ada kasur lagi yang bisa digunakan jadi kemudian saya search aja mencari kasur yang bisa saya gunakan. Untuk menggunakan kasur spring bed seperti itu sepertinya ngga deh, pilihan saya ngga di kasur spring bed, karena tempat dari kamar saya kayanya ngga pas dipakein kasur tersebut disamping keuangan saya juga yang lagi kurang baik.

Karena kalau kasur spring bed yang ngga bagus saya pernah nyoba, dimana pernya kerasa banget …

Beli Plastik Bubble Dimana Ya?

Blog Iman Prabawa - Mungkin ada teman-teman juga yang bertanya hal yang sama dengan saya, yaitu beli plastik bubble dimana ya? Apa sih plastik buble itu? Itu lho plastik yang ada gelembungnya gitu. Yang biasanya buat pelindung barang kalau kita mau ngirim-ngirim.
Atau biasanya kalau kita beli barang dan dikirim suka dibungkus dengan plastik bubble kaya gitu. Tadi kebetulan saya ingin ngirim barang, jadi kepikiran banget untuk mendadak banget beli plastik bubble. Nah langsung aja saya search di google ternyata ada yang nyari juga ya.
Tapi kebanyakan yang jual, dan karena saya butuh cepat yang saat itu ada, saya hanya melihat ada yang posting ngga mengenai hal ini, saya lihat salah satunya ada yang bilang di pasar Mester daerah Jatinegara. Tapi karena buat saya juga terlalu jauh saya search lagi.
Dan ngga nemu juga! Akhirnya saya iseng ke ACE Hardware yang ada di dekat rumah saya di daerah Cempaka Putih. Sesampainya disana saya muter-muter dulu sebelum nanya ke petugasnya. Akhirnya ngga…