Skip to main content

Featured Post

Cara Naik Busway Untuk Pertama Kali

Blog Iman Prabawa - Hari ini saya pertama kali menggunakan busway untuk menuju ke kampus baru saya di Universitas Darma Persada. Karena saya mengalami kecelakaan motor maka saya sekarang tidak  lagi menggunakan motor, karena sudah menjadi trauma, kecelakaan motor ini membuat tangan kanan saya patah dan harus dipasang besi pen di tangan kanan saya ini.

Nah karena hari ini pertama kali saya menggunakan busway, saya mau sharing aja, karena saya yakin juga masih banyak juga yang belum pernah naik busway seumur hidupnya seperti saya dan ketika ingin naik busway kemudian bertanya kesana dan kesini.


Semoga sharing dari pengalaman saya naik busway untuk pertama kali ini bisa bermanfaat untuk teman-teman yang seperti saya, yang baru pertama kali ingin menggunakan transportasi busway ini.

Beli E-Ticket Terlebih Dahulu Nah sebelum saya naik busway tentunya saya bertanya-tanya dulu sama teman-teman saya yang sudah pernah menggunakan dan pernah naik busway. Dulu saya pernah satu kali diajak teman …

Pertarungan Antara Capung dan Monyet

Blog Iman Prabawa - Ketika bangsa capung melawan bangsa monyet, siapakah yang akan keluar sebagai pemenang? Ternyata, tak selamanya yang kecil itu lemah, dan yang besar selalu paling kuat.

Suatu hari, seekor capung mungil terbang dari Pulau Luzon, wilayah paling utara di Kepulauan Filipina, ke arah selatan, yakni Mindanao. Karena sayap-sayapnya yang kecil, capung tersebut sudah tertinggal jauh dari teman dan keluarganya. Apalagi, cuaca ketika itu sangat panas. Matahari bersinar terik di langit dan cahayanya memanasi sekujur tubuh si capung mungil itu. Ia pun kepanasan dan kelelahan.

"Aduh panasnya!", kata capung mungkil. "Lebih baik aku mencari tempat untuk beristirahat dahulu, karena perjalananku masih jauh." Maka capung tersebut terbang rendah di atas hutan, mencari di tempat teduh untuk bernaung. Tak lama, ia melihat sebuah pohon beringin yang besar dan rindang. Capung mungil itu mendarat di salah satu cabang pohon, dan berteduh di bawah daun-daunnya.

Udara di sana sangat sejuk. Sang capung pun beristirahat dengan nikmat. Tanpa ia ketahui, ada sejumlah monyet yang hidup di pohon beringin itu, dan mereka merasa terusik melihat kehadiran serangga kecil itu di rumah mereka.


Ketika capung mungkin tengah tidur-tiduran di atas sehelai daun, ia tiba-tiba mendengar bunyi gemerisik di antara dedaunan. Hewan tersebut segera bangun dan mengambil sikap waspada, tapi ia belum bisa melihat dari mana bunyi itu berasal.

"Si-siapa di situ?" tanya capung mungil sambil mengawasi sekitar. Semerisik daun kembali terdengar, lalu keluarlah seekor monyet yang ukurannya cukup besar. Ia berjalan mendekati si capung mungkil, tubuhnya menjulang di atas serangga kecil tersebut.

"Hei, hewan kecil!" kata monyet tersebut dengan tidak senang. "Apa yang kamu lakukan di pohon ini? Ini rumah kami, para monyet. Kamu sudah melanggar batas wilayah! Sebaiknya kamu pergi dari sini, daripada kamu nanti mengganggu ketenangan kami."

Capung mungil gemetar mendengar hardikan monyet. Namun karena ia benar-benar kelelahan, capung tersebut mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk menghadapi si monyet.

"Tuan monyet yang baik, " jawab capung mungil itu, "Saya mohon ijinkanlah beristirahat sejenak di pohon ini. Tidak lama kok. Saat matahari terbenam dan udara kembali sejuk, saya akan pergi. Saya harus terbang jauh hari ini, dan sayap-sayap saya terlalu lelah."

Mendengar itu, bukannya merasa kasihan, sang monyet malah mengejek, "Apa? Sayap-sayapmu kelelahan? Hahaha! Kamu kira kami akan percaya dengan alasanmu itu?" cemooh sang monyet.

Ketika capung mungil tak menjawab, monyet itu kembali berbicara, "Kami justru semakin yakin untuk mengusirmu dari sini karena tidak ada tempat bagimu di pohon beringin yang indah ini. Kami tidak akan mau berbagi ruang dengan makhluk kecil dan lemah seperti kamu," maki monyet tersebut tanpa ampun.

"Ayo, pergi dari sini. Sekarang!" usir monyet. Saat melihat capung mungil tak bergerak, monyet mematahkan satu dahan pohon dan menyorongkannya ke arah capung, seakan-akan dahan itu adalah sebilang pedang.

"Tolong, jangan sakiti saya," kata capung mungil dengan takut. Tapi, permohonannya tak digubris. Malah, monyet itu semakin berani. Ia kini melemparkan dahan pohon yang dipegangnya ke arah capung malang itu.

Beuntung, meski tubuhnya kecil, capung adalah hewan yang gesit. Sebelum dahan pohon yang dilemparkan monyet mengenai tubuhnya, si capung mungil segera melesat tinggi. Sayapnya sudah kuat kembali untuk dibawa terbang, dan kini ia bia melanjutkan perjalanannya.

Ketika akhirnya sampai di rumah, capung mungil langsung disambut teman-teman dan keluarganya. Mereka ingin tahu, mengapa capung mungil terlambat sampai, tak terkecuali raja capung. Maka capung mungil bercerita mengenai apa yang dilakukan monyet di pohon beringin kepadanya.

Saat raja capung mendengar apa yang telah terjadi, ia marah. Sang raja pun memutuskan bahwa para capung harus menuntut permintaan maaf dari para monyet. Untuk itu, ia mengutus tiga prajuritnya untuk bicara kepada raja monyet.

Prajurit capung pun terbang menuju pohon beringin di tengah hutan. Setibanya di sana, mereka menghadap raja monyet. "Wahai Raja, salah satu rakyatmu telah memperlakukan rakyat kami dengan tidak baik. Kami ingin kalian meminta maaf, atau kami akan menyatakan perang dengan kalian," tegas prajurit capung.

Mendengar ini, raja monyet tertawa terbahak-bahak, "Apa? Perang? Apa kamu tidak salah? Katakan pada raja kalian bahwa kami tidak sudi minta maaf kepada capung. Ke sini saja kalau berani dan kita lihat siapa yang menang!"

Prajurit capung tahu, memenangkan perang melawan bangsa monyet yang jauh lebih besar dari mereka akan sulit. Karena itu, mereka berkata, "Tuan, Anda tidak boleh sombong. Kita tidak pernah tahu apa yang bisa terjadi. Anda cukup minta maaf, dan perang tidak perlu terjadi!"

Apa reaksi raja monyet? Ia malah menghentakkan kaki dengan kesal, lalu berseru kepada prajurit capung, "Pergi sekarang juga dan beri tahu raja kalian bahwa bangsa monyet dan bangsa capung akan berperang!"



Apa boleh buat. Para prajurit capung terbang kembali ke raja mereka dan mengabari jawaban dari raja monyet. Akhirnya, raja capung memerintahkan seluruh prajuritnya untuk bersiap-siap, kemudian mereka semua terbang ke pohon beringin di tengah hutan.

Para capung terbang secepat mungkin, dalam formasi rapat, menuju pohon beringin. Mereka tidak membawa senjata apa pun, kecuali sayap-sayap yang mereka miliki. Sebaliknya, pasukan monyet memperlengkapi diri mereka dengan dahan-dahan pohn yang tajam.

Ketika pasukan capung hampir sampai di pohon beringin, raja monyet yang melihat kedatangan searangga tersebut segera berseru, "Serang! Serang mereka tanpa ampun dengan dahan pohon!"

Sementara itu, raja capung yang terbang paling depan memerintahkan para prajurit di belakangnya: "Terbanglah ke arah monyet-monyet tersebut dan mendaratlah di dahi mereka!'

Saat pasuka capung semakin dekat, mereka melihat para monyet mulai melompat-lompat sambil mengayun-ayunkan dahan pohon. Sesuai perintah raja, para prajurit capung terbang lurus dan cepat ke arah para monyet, lantas mendarat di dahi mereka.

Monyet-monyte langsung mengayunkan dahan pohon ke arah kening mereka sendiri, dan ketika itu juga, para prajurit capung segera melesat secepat kilat. Akibatnya, monyet-monyet itu menusuk dahi mereka sendiri dengan dahan pohon yang tajam. Satu per satu, mereka roboh ke tanah.

Demikianlah cara capung yang kecil memenangkan pertarungan melawan bangsa monyet. Dan sejak saat itu, makhluk-makhluk di hutan belajar untuk menghormati sesama bukan dari ukuran tubuh mereka, melainkan kecerdikan dan kegesitan.

Cerita ini dari dongeng Filipina dan saya ambil dari majalah Media Kawasan bulan Juni 2015.


Baca juga :
  1. Sang Pangeran dan Pengalaman Terbaiknya
  2. Pelajaran Berharga Bagi Si Pemalas
  3. Cerita Seorang Ayah Yang Bijaksana

Comments

Popular posts from this blog

Cara Naik Busway Untuk Pertama Kali

Blog Iman Prabawa - Hari ini saya pertama kali menggunakan busway untuk menuju ke kampus baru saya di Universitas Darma Persada. Karena saya mengalami kecelakaan motor maka saya sekarang tidak  lagi menggunakan motor, karena sudah menjadi trauma, kecelakaan motor ini membuat tangan kanan saya patah dan harus dipasang besi pen di tangan kanan saya ini.

Nah karena hari ini pertama kali saya menggunakan busway, saya mau sharing aja, karena saya yakin juga masih banyak juga yang belum pernah naik busway seumur hidupnya seperti saya dan ketika ingin naik busway kemudian bertanya kesana dan kesini.


Semoga sharing dari pengalaman saya naik busway untuk pertama kali ini bisa bermanfaat untuk teman-teman yang seperti saya, yang baru pertama kali ingin menggunakan transportasi busway ini.

Beli E-Ticket Terlebih Dahulu Nah sebelum saya naik busway tentunya saya bertanya-tanya dulu sama teman-teman saya yang sudah pernah menggunakan dan pernah naik busway. Dulu saya pernah satu kali diajak teman …

Pengalaman Menggunakan Kasur Busa Inoac

Blog Iman Prabawa - Kali ini saya mau sharing sedikit mengenai pengalaman menggunakan kasur busa Inoac, yap! Untuk teman-teman yang pernah membaca tulisan saya "Kasur Angin Mudah Bocor?" tentu tahu saya akhirnya tidak lagi menggunakan kasur angin walau pun itu kasur menurut saya nyaman sekali digunakan, tapi karena kasurnya bocor dan ternyata banyak yang sudah mengalami juga kasur anginnya mengalami kebocoran, jadi saya sudah tidak menggunakan kasur angin lagi deh.

Search Kasur Busa Di Internet Karena mengalami kasur angin yang bocor dan di kamar saya ngga ada kasur lagi yang bisa digunakan jadi kemudian saya search aja mencari kasur yang bisa saya gunakan. Untuk menggunakan kasur spring bed seperti itu sepertinya ngga deh, pilihan saya ngga di kasur spring bed, karena tempat dari kamar saya kayanya ngga pas dipakein kasur tersebut disamping keuangan saya juga yang lagi kurang baik.

Karena kalau kasur spring bed yang ngga bagus saya pernah nyoba, dimana pernya kerasa banget …

Beli Plastik Bubble Dimana Ya?

Blog Iman Prabawa - Mungkin ada teman-teman juga yang bertanya hal yang sama dengan saya, yaitu beli plastik bubble dimana ya? Apa sih plastik buble itu? Itu lho plastik yang ada gelembungnya gitu. Yang biasanya buat pelindung barang kalau kita mau ngirim-ngirim.
Atau biasanya kalau kita beli barang dan dikirim suka dibungkus dengan plastik bubble kaya gitu. Tadi kebetulan saya ingin ngirim barang, jadi kepikiran banget untuk mendadak banget beli plastik bubble. Nah langsung aja saya search di google ternyata ada yang nyari juga ya.
Tapi kebanyakan yang jual, dan karena saya butuh cepat yang saat itu ada, saya hanya melihat ada yang posting ngga mengenai hal ini, saya lihat salah satunya ada yang bilang di pasar Mester daerah Jatinegara. Tapi karena buat saya juga terlalu jauh saya search lagi.
Dan ngga nemu juga! Akhirnya saya iseng ke ACE Hardware yang ada di dekat rumah saya di daerah Cempaka Putih. Sesampainya disana saya muter-muter dulu sebelum nanya ke petugasnya. Akhirnya ngga…