Skip to main content

Featured Post

Cara Naik Busway Untuk Pertama Kali

Blog Iman Prabawa - Hari ini saya pertama kali menggunakan busway untuk menuju ke kampus baru saya di Universitas Darma Persada. Karena saya mengalami kecelakaan motor maka saya sekarang tidak  lagi menggunakan motor, karena sudah menjadi trauma, kecelakaan motor ini membuat tangan kanan saya patah dan harus dipasang besi pen di tangan kanan saya ini.

Nah karena hari ini pertama kali saya menggunakan busway, saya mau sharing aja, karena saya yakin juga masih banyak juga yang belum pernah naik busway seumur hidupnya seperti saya dan ketika ingin naik busway kemudian bertanya kesana dan kesini.


Semoga sharing dari pengalaman saya naik busway untuk pertama kali ini bisa bermanfaat untuk teman-teman yang seperti saya, yang baru pertama kali ingin menggunakan transportasi busway ini.

Beli E-Ticket Terlebih Dahulu Nah sebelum saya naik busway tentunya saya bertanya-tanya dulu sama teman-teman saya yang sudah pernah menggunakan dan pernah naik busway. Dulu saya pernah satu kali diajak teman …

Cerita Tentang Gagak, Kukuk dan Burung Hantu

Blog Iman Prabawa - Tahukah kamu bahwa dahulu kala, Burung Hantu hidup seperti burung-burung lain? Ya, ia berburu makanan di kala siang dan pergi mengunjungi teman-temannya di bawah kehangatan sinar mentari. Lalu seperti burung-burung lain, ia juga tidur di malam hari.

Masa itu sudah lama sekali berlalu. Waktu itu Burung Hatu sama sekali tidak terbayang bahwa dia kelak akan menjadi burung hantu seperti yang kita kenal sekarang. Saat itu adalah musim semi yang indah. Udara berembus hangat dan sarat akan keharuman bunga lilac yang bermekaran.

Burung Hantu sedang bersantai di batang sebuah pohon ketika seorang anak laki-laki berjalan melewatinya. Anak ini membawa ketapel, dan ketika ia melihat Burung Hantu, terbitlah rasa usil di hatinya. Tanpa ragu, anak ini mengambil ketapel miliknya dan membidik Burung Hantu.



"Owww!" Burung Hantu memekik kesakitan. Umpan lumpur yang ditembakkan anak laki-laki itu tepat mengenai bokong Burung Hantu. "Aduh...," Burung Hantu merintih. Tanpa daya, ia melihat anak laki-laki itu kabur dengan tawa puas. "Sekarang, apa yang harus kulakukan?"

Burung Hantu benar-benar tidak tahu bagaimana cara meredakan rasa sakitnya. Akhirnya ia bertanya pada Gagak, sahabatnya yang kebetulan sedang terbang di dekat-dekat situ. Siapa tahu, Gagak bisa membantu.

"Hei, Gagak!" panggil Burung Hantu. "Aku baru ditembak ketapel oleh seorang bocah laki-laki. Rasanya sakit sekali. Apa yang harus kulakukan?"

Gagak buru-buru menghampiri dengan prihatin. Ia menggoyang-goyangkan kepala hitamnya yang berkilai ke depan dan ke belakang. sembari memeriksa kondisi Burung Hantu. "Aku juga tidak tahu apa yang harus dilakukan," kata Gagak penuh sesal. "Bagaimana kalau kita pergi menemui Burung Kukuk? Biasanya dia ahli menangangi masalah-masalah seperti ini."

Maka pergilah kedua makhluk itu ke tempat Burung Kukuk. Burung Hantu masih melolong kesakitan ketika tiba di sana. "Tolonglah, apa kau bisa membantu temanku?" tanya Gagak pada Burung Kukuk. "Dia kesakitan karena ditembak ketapel."

"Hmm, bagaimana ya?" Burung Kukuk berpikir-pikir. "Aku bisa saja membantu, tapi aku harus dibayar di muka." Burung Hantu yang malam. Ia tidak memiliki uang atau apa pun yang bisa ditawarkan kepada Burung Kukuk.

"Aku tidak punya apa-apa saat ini," ucap Burung Hantu. "Tapi aku berjanji, begitu sembuh, aku akan mencari cara untuk membayarmu." Aku tidak mengenalmu, bagaimana aku bisa percaya padamu?" balas Burung Kukuk. "Setelah sembuh nanti jangan-jangan kau langsung kabur dan melupakan hutangmu."

Gagak tidak tega melihat Burung Hantu yang kesakitan harus panjang-panjang berdebat. "Tenanglah, Burung Kukuk. Aku yang menjamin temanku," kata Gagak. "Aku janji, kalau sampai Burung Hantu tidak membayar, maka aku yang akan membayar hutangnya."

Burung Kukuk merenungkan tawaran Gagak. "Baiklah, aku terima jaminan itu." Ia akhirnya menyanggupi, lalu merunduk untuk memerika butiran lumpur kering yang masih menempel di bokong Burung Hantu.

"Aku tahu," ucap Burung Kukuk pada Burung Hantu. "Ini yang harus kau lakukan, pergilah ke sungai yang mengalir dan berendamlah di sana selama enam jam. Aku jamin, setelah itu kau pasti sembuh." Burung Hantu merasa amat lega. Ia langsung melesat secepat mungkin untuk menjalankan saran Burung Kukuk. Sementara itu, Gagak terbang menyusul di belakangnya.

Di tepian sungai, Gagak ikut menunggu sementara Burung Hantu berendam. Setelah beberapa jam, bongkahan lumpur yang menempel pada bokong Burung Hantu mulai tergerus oleh aliran alir. Rasa sakit yang sedari tadi diderita Burung Hantu pun mereda.

"Oh, aku merasa jauh lebih baik sekarang," Burung Hantu bergumam senang. Tak lama, lumpur yang mengotori bulu-bulunya luruh sepenuhnya. Luka Burung Hantu berhasil dibersihkan oleh air sungai yang sejuk dan jernih. Maka, pulanglah Burung Hantu dan Gagak ke rumah masing-masing.

Malam itu, Burung Hantu tidur sangat nyenyak. Namun, esoknya, pagi-pagi sekali, ia sudah dibangunkan oleh suara ketukan di cabang pohonnya. "Selamat pagi!" Ternyata si Burung Kukuk yang datang. Ia bersemangat sekali menyapa. "Bagaimana kabar pasienku pagi ini?"

Burung Hantu merengut. "Aku bukan pasienmu. AKu hanya harus berendam dan sekarang aku merasa baikan. Kau sama sekali tidak melakukan apa-apa untukku."


Tidak melakukan apa-apa? Yang benar saja kau!" Burung Kukuk mengoceh. "Aku memeriksamu, menentukan penyakitmu, dan menganjurkan obatnya. Kemarin kau sakit, dan sekarang kau sudah sembuh. Aku adalah dokter yang handal dan jasaku layak untuk dibayar."

"Blah! Jangan bermimpi. Kau bukan dokter!" balas Burung Hantu. "Tanpa anjuranmu, aku pasti akan mandi juga. Dan saat aku mandi, otomatis lumpur yang menempel di bokongku akan hilang. Lalu, aku akan merasa baikan setelah itu."

"Jadi, anjuranmu kemarin itu sebenarnya sia-sia," lanjut Burung Hantu. "Aku tahu kau hanya berusaha menipuku. Karena itu, lupakan saja. Aku tidak akan membayarmu. Pergi sana!"

Burung Kukuk tersinggung. Dengan kesal, ia segera terbang menuju rumah Gagak. "Gagak temanku, selamat pagi," ucap Burung Kukuk sedikit berbasa-basi. "Aku datang untuk menagih hutang Burung Hantu. Temanmu itu menolak untuk membayarku. Dan karena kau telah menjaminnya, maka hutang itu sekarang aku tagihkan kepadamu."

Gagak nyaris tidak bisa mendengar pendengarannya. Selama ini, ia berpikir bahwa Burung Hantu adalah teman yang bisa diandalkan. Dia akan membayar bila sudah berjanji untuk membayar. Lagi pula, dia tidak akan mengorbankan temannya seperti ini.

"Ah, Burung Hantu pasti hanya bergurau," kata Gagak. "Mari kita sama-sama pergi ke tempatnya. Aku yakin semua ini hanya kesalahpahaman belaka." Jadilah Burung Kukuk dan Gagak terbang menuju tempat Burung Hantu. Tetapi mereka tidak melihat siapa-siapa di sana. Mereka mencari dan mencari, tapi tetap tidak bisa menemukan Burung Hantu. Mereka tidak tahu kalau Burung Hantu sedang bersembunyi di dalam rongga pohon.

Setelah beberapa lama mencari, Burung Kukuk menggeleng tidak sabar. "Dengar Gagak. Kau sudah janji, jandi kau harus membayar untuk temanmu." Gagak menundukkan kepala dengan lesu. "Tapi aku tidak punya uang," ucapnya. "Bagaimana caranya aku bisa membayarmu?"

"Kita tanya saja pada hakim kalau begitu," balas Burung Kukuk. Maka, pergilah mereka menemui Jackal Emas, ahli hukum di daerah itu.

Burung Kukuk menjabarkan panjang lebar tentang kasusnya. Jackal Emas mendengar dengan seksama, kemudian menimang-nimang. "Sejujurnya, hukum adalah hukum," ujar Jackal Emas, "Gagak, karena kau sudah bersedia menjamin temanmu, maka kau bertanggung jawab membayar utangnya. Dan karena kau tidak punya uang, maka kau harus bekerja kepada Burung Kukuk sampai lunas utangmu."



Semenjak itu, Gagak harus bertugas menjaga telur-telur milik Burung Kukuk. Sementara Burung Hantu, bagaimana nasibnya? Mungkin tidak terlalu baik. Karena malu bertemu Gagak, ia tidak bisa lagi bebas berkeliaran di siang hari.

Kini, Burung Hantu harus terus menerus bersembunyi di rongga pohon dan hanya bisa keluar mencari makan di malam hari. Sejak itulah, burung hantu tidak lagi aktif di siang hari seperti burung-burung lain.


Diambil dari majalah Media Kawasan bulan Februari 2016.


Baca juga :
  1. Dinamika Teori Relativitas Albert Einstein
  2. Pelajaran Berharga Bagi Si Pemalas
  3. Pertarungan Antara Capung dan Monyet

Comments

Popular posts from this blog

Cara Naik Busway Untuk Pertama Kali

Blog Iman Prabawa - Hari ini saya pertama kali menggunakan busway untuk menuju ke kampus baru saya di Universitas Darma Persada. Karena saya mengalami kecelakaan motor maka saya sekarang tidak  lagi menggunakan motor, karena sudah menjadi trauma, kecelakaan motor ini membuat tangan kanan saya patah dan harus dipasang besi pen di tangan kanan saya ini.

Nah karena hari ini pertama kali saya menggunakan busway, saya mau sharing aja, karena saya yakin juga masih banyak juga yang belum pernah naik busway seumur hidupnya seperti saya dan ketika ingin naik busway kemudian bertanya kesana dan kesini.


Semoga sharing dari pengalaman saya naik busway untuk pertama kali ini bisa bermanfaat untuk teman-teman yang seperti saya, yang baru pertama kali ingin menggunakan transportasi busway ini.

Beli E-Ticket Terlebih Dahulu Nah sebelum saya naik busway tentunya saya bertanya-tanya dulu sama teman-teman saya yang sudah pernah menggunakan dan pernah naik busway. Dulu saya pernah satu kali diajak teman …

Pengalaman Menggunakan Kasur Busa Inoac

Blog Iman Prabawa - Kali ini saya mau sharing sedikit mengenai pengalaman menggunakan kasur busa Inoac, yap! Untuk teman-teman yang pernah membaca tulisan saya "Kasur Angin Mudah Bocor?" tentu tahu saya akhirnya tidak lagi menggunakan kasur angin walau pun itu kasur menurut saya nyaman sekali digunakan, tapi karena kasurnya bocor dan ternyata banyak yang sudah mengalami juga kasur anginnya mengalami kebocoran, jadi saya sudah tidak menggunakan kasur angin lagi deh.

Search Kasur Busa Di Internet Karena mengalami kasur angin yang bocor dan di kamar saya ngga ada kasur lagi yang bisa digunakan jadi kemudian saya search aja mencari kasur yang bisa saya gunakan. Untuk menggunakan kasur spring bed seperti itu sepertinya ngga deh, pilihan saya ngga di kasur spring bed, karena tempat dari kamar saya kayanya ngga pas dipakein kasur tersebut disamping keuangan saya juga yang lagi kurang baik.

Karena kalau kasur spring bed yang ngga bagus saya pernah nyoba, dimana pernya kerasa banget …

Beli Plastik Bubble Dimana Ya?

Blog Iman Prabawa - Mungkin ada teman-teman juga yang bertanya hal yang sama dengan saya, yaitu beli plastik bubble dimana ya? Apa sih plastik buble itu? Itu lho plastik yang ada gelembungnya gitu. Yang biasanya buat pelindung barang kalau kita mau ngirim-ngirim.
Atau biasanya kalau kita beli barang dan dikirim suka dibungkus dengan plastik bubble kaya gitu. Tadi kebetulan saya ingin ngirim barang, jadi kepikiran banget untuk mendadak banget beli plastik bubble. Nah langsung aja saya search di google ternyata ada yang nyari juga ya.
Tapi kebanyakan yang jual, dan karena saya butuh cepat yang saat itu ada, saya hanya melihat ada yang posting ngga mengenai hal ini, saya lihat salah satunya ada yang bilang di pasar Mester daerah Jatinegara. Tapi karena buat saya juga terlalu jauh saya search lagi.
Dan ngga nemu juga! Akhirnya saya iseng ke ACE Hardware yang ada di dekat rumah saya di daerah Cempaka Putih. Sesampainya disana saya muter-muter dulu sebelum nanya ke petugasnya. Akhirnya ngga…