Wednesday, November 29, 2017

Standar Yang Harus Dimiliki Oleh Penerjemah Dalam Melaksanakan Pekerjaan

Blog Iman Prabawa - Saya barusan melihat tulisan yang ditulis oleh kang Heru Erlangga di grup facebook dan saya pikir sangat bagus sekali, sehingga saya buat di sini. Ijin dicopas ya tulisannya. Ini saya berikan skrinsut tulisannya pada gambar di bawah ini.

Standar Yang Harus Dimiliki Oleh Penerjemah Dalam Melaksanakan Pekerjaan

Kita simak langsung saja yuk apa yang disampaikan oleh kang Heru Erlangga ini di dalam tulisannya. Sangat bagus sekali untuk kita simak dan renungkan kalau menurut saya.

Standar Yang Perlu Dimiliki oleh Penerjemah

*STANDAR-STANDAR YANG HARUS DIMILIKI OLEH INTERPRETER DALAM MELAKSANAKAN PEKERJAAN *
A. Keakuratan
B. Kerahasiaan
C. Kenetralan
D. Rasa hormat
E. Kesadaran budaya
F. Batasan peran
G. Profesionalisme
H. Pengembangan profesional



A. Keakuratan

Sasaran:
Mampu membuat pihak pendengar memahami isi pesan yang disampaikan oleh pembicara (speaker).

Prinsip:
Interpreter berusaha untuk merangkai pesan seakurat mungkin, menyampaikan isi serta “roh” dari pesan asli, mempertimbangkan konteks budaya.
  1. Interpreter merangkai semua pesan yang diterima secara akurat dan lengkap, tanpa menambah, mengurangi, atau mengganti makna asli dari pesannya.
    Sebagai contoh, seorang interpreter mengulangi semua yang diucapkan oleh pembicara walaupun isi pesannya bertele-tele, tidak relevan, atau tidak sopan
  2. Interpreter meniru nada, gaya bicara atau intonasi pembicara.
    Contohnya, jika tidak ada padanan kata yang pas untuk diterjemahkan ke bahasa yang digunakan oleh klien, seorang interpreter tidak mengganti istilah yang digunakan oleh pembicara dengan penjelasan yang lebih simpel, tetapi boleh meminta si pembicara untuk menyampaikan kembali istilah yang digunakan ke dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh pihak lain.
  3. Interpreter mengatur alur komunikasi.
    Contohnya, seorang interpreter boleh meminta pembicara untuk berhenti sejenak saat berbicara atau tidak bicara terlalu cepat.
  4. Interpreter segera melakukan koreksi terhadap kesalahan interpretasi.
    Contoh, ada suatu kata yang terlewat dan tidak tersampaikan oleh interpreter, maka interpreter harus melakukan koreksi sesegera mungkin.
  5. Seorang interpreter harus bisa menjaga transparansi saat melakukan proses interpretasi.
    Sebagai contoh, ketika ingin meminta konfirmasi terhadap informasi yang diterima, interpreter memberitahu ke semua pihak, “saya yang bertindak sebagai interpreter, tidak memahami pesan yang disampaikan, jadi saya ingin meminta penjelasan”


B. KERAHASIAAN

Sasaran:
Untuk menghormati adanya batasan interaksi yang bersifat pribadi dan menjaga kepercayaan diantara semua pihak.

Prinsip:
Interpreter memperlakukan segala informasi yang dipelajari dalam tugasnya sebagai sesuatu yang rahasia.
  1. Interpreter menjaga kerahasiaan informasi dan tidak membocorkannya kecuali atas persetujuan dari pihak klien.
    Sebagai contoh, seorang interpreter tidak boleh mendiskusikan mengenai bisnis yang pihak klien jalankan dengan perusahaan lain tanpa seizin klien yang bersangkutan.
  2. Interpreter menjaga informasi tertulis dalam genggamannya.
    Sebagai contoh, interpreter tidak boleh meninggalkan catatan yang dibuat saat sesi interpretasi, di sembarang tempat (tempat yang terlihat oleh umum).

C. KENETRALAN

Sasaran:
Menghilangkan efek keberpihakan interpreter terhadap suatu pihak.

Prinsip:
Interpreter berusaha untuk menjaga kenetralan dan menghindari konseling, aktivitas promosi, atau menonjolkan bias pribadi
  1. Interpreter tidak diperkenankan memberikan penilaian atau nilai budaya yang sifatnya pribadi untuk mempengaruhi objektivitas masing-masing pihak.
    Sebagai contoh, seorang interpreter tidak menunjukkan emosi pribadi melalui kata-kata, nada bicara, atau bahasa tubuh.
  2. Seorang interpreter senantiasa menjauhkan dirinya dari kondisi yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan, atau mundur dari tugas jika dibutuhkan.
    Sebagai contoh, seorang interpreter tidak melakukan aktivitas interpretasi untuk anggota keluarga atau teman dekat.


D. RASA HORMAT

Sasaran:
Menghormati martabat semua pihak yang menjadi klien menerima jasa interpretasi (klien).

Prinsip:
Interpreter harus memperlakukan semua pihak dengan rasa hormat.
  1. Interpreter harus menunjukkan sikap professional dan rasa hormat dengan cara yang berbudaya.
    Sebagai contoh, saat memberikan salam, seorang interpreter menyebutkan titel atau jabatan dari lawan bicaranya, baik itu klien maupun pihak sebaliknya.
  2. Interpreter menganjurkan agar semua pihak dapat berkomunikasi langsung.
    Sebagai contoh, seorang interpreter boleh meminta klien atau pihak sebaliknya, untuk berbicara secara langsung daripada melalui perantara interpreter.



E. KESADARAN BUDAYA

Sasaran:
Memfasilitasi komunikasi antar budaya yang berbeda.

Prinsip:
Interpreter berusaha untuk membangun kesadaran terhadap budaya yang ada pada saat melakukan tugasnya.
  1. Interpreter berusaha untuk memahami budaya yang berhubungan dengan bahasa yang sedang diterjemahkan.
    Sebagai contoh, seorang interpreter mempelajari tentang budaya tradisional yang dimiliki oleh klien atau pihak sebaliknya.
  2. Interpreter mengingatkan semua pihak terhadap munculnya kesalahpahaman budaya apapun bentuknya.
    Contohnya, jika seseorang meminta orang yang sedang berpuasa karena alasan keagaamaan untuk makan atau minum, maka interpreter boleh mengingatkan orang tersebut agar tidak melakukannya.


F. BATASAN PERAN 

Sasaran:
Memperjelas ruang lingkup dan batasan peranan interpreter untuk menghidari konflik kepentingan.

Prinsip:
Interpreter tidak melewati batasan peranan profesionalnya dan menahan diri agar tidak melakukan keterlibatan yang bersifat pribadi.
  1. Seorang interpreter membatasi kedekatan dirinya secara pribadi dengan semua pihak saat melakukan tugasnya.
    Sebagai contoh, seorang interpreter tidak diperkenan untuk membagi atau membocorkan informasi yang sifatnya pribadi saat bercakap-cakap dengan klien.
  2. Interpreter membatasi aktivitasnya secara profesional dalam suatu pertemuan.
    Sebagai contoh, seorang interpreter tidak menyarankan kliennya dengan berupa pertanyaan, tapi mengarahkan klien untuk bertanya pada seseorang.
  3. Interpreter dengan peran tambahan (tugas) tetap mematuhi segala aturan standar kerja interpreter saat melakukan tugasnya.
    Sebagai contoh, seorang interpreter yang mempunyai pengetahuan dalam bidang accounting (akuntansi) tidak perlu berperan ganda sebagai akuntan, cukup laksanakan tugas sebagai interpreter.


G. PROFESIONALISME

Sasaran:
Menjaga kepercayaan masyarakat terhadap profesi interpreter.

Prinsip:
Seorang interpreter harus selalu bersikap professional serta menjaga etikanya.
  1. Seorang interpreter harus jujur dan selalu menjaga etikanya dalam setiap kegiatan bisnis.
    Sebagai contoh, harus selalu menunjukkan identitas aslinya dengan akurat, tidak ditutup-tutupi.
  2. Interpreter harus selalu siap dalam menjalankan setiap tugasnya.
    Contoh, seorang interpreter meminta penjelasan mengenai karakteristik tugas yang akan dijalankan serta memeriksa istilah-istilah apa saja yang digunakan nantinya.
  3. Interpreter menginformasikan batasan kemampuannya dengan sopan pada saat menjalankan tugas tertentu.
    Misalnya, seorang interpreter yang tidak mengenal istilah-istilah teknik, meminta penjelasan terlebih dahulu sebelum melanjutkan proses interpretasi.
  4. Interpreter sebisa mungkin menghindari sight translation (proses penerjemahan lisan dengan membaca langsung dokumen ), terutama untuk dokumen yang kompleks atau sifatnya penting jika memang kemampuan sight translationnya terbatas.
    Misalnya, ketika diminta untuk menerjemahkan dokumen atau formulir perjanjian secara lisan, seorang interpreter meminta kepada klien untuk menjelaskan isinya, baru kemudian menerjemahkan penjelasan yang diberikan.
  5. Seorang bertanggungjawab terhadap pekerjaannya secara profesional.
    Sebagai contoh, seorang interpreter tidak boleh menyalahkan orang lain atas kesalahannya pada saat melakukan aktivitas interpretasi.
  6. Seorang interpreter dapat memberi anjuran kepada klien untuk membuat kondisi kerja lebih kondusif agar kualitas terjemahannya dapat terjamin.
    Misalnya, interpreter memberi tahu klien, rasa lelah yang dialami interpreter akibat masa tugas yang panjang akan berpengaruh pada keakuratan interpretasinya,
  7. Interpreter menunjukkan rasa hormatnya secara profesional terhadap orang-orang yang bekerja dengannya.
    Contoh, seorang interpreter tidak boleh menyebarkan rumor atau gosip yang mendiskreditkan interpreter lain.
  8. Seorang interpreter bertindak sesuai dengan kode etik profesi dan mengikuti aturan kerja yang berlaku.
    Sebagai contoh, seorang interpreter berpakaian yang pantas (sopan) dan datang ke tempat kerja tepat waktu.



H. PENGEMBANGAN PROFESIONAL 

Sasaran:
Untuk mencapai level tertinggi dari kompetensi diri serta jasa yang ditawarkan.

Prinsip:
Seorang interpreter berusaha untuk selalu meningkatkan pengetahuan serta kemampuannya melalui studi secara mandiri, terus mengikuti pelatihan, dan berlatih melakukan praktek aktivitas intepretasi.
  1. Seorang interpreter terus meningkatkan kemampuan bahasa, pengetahuan budaya serta kemampuan interpretasinya.
    Sebagai contoh, seorang interpreter selalu mengikuti (up to date) perkembangan istilah-istilah teknologi terbaru atau bahasa-bahasa slang yang berkembang di suatu daerah.
  2. Seorang interpreter meminta umpan balik (feedback) untuk meningkatkatnya performanya di masa depan.
    Sebagai contoh, seorang interpreter dapat berkonsultasi dengan rekan sesame interpreter mengenai pekerjaan-pekerjaan yang lebih menantang.
  3. Interpreter memberikan dukungan untuk pengembangan profesional terhadap rekan sesama interpreter.
    Sebagai contoh, interpreter senior menjadi mentor untuk interpreter junior.
  4. Interpreter berpartisipasi dalam organisasi dan aktivitas yang berkontribusi terhadap pengembangan profesi interpreter.
    Sebagai contoh, seorang interpreter mengikuti pelatihan atau seminar yang berkaitan dengan profesi interpreter.


Sumber :
NCIHC National Standards of Practice for Interpreters in Health Care.

Baca juga:
  1. Beda Bahasa Beda Grammar
  2. Persamaan atau Kesamaan?

No comments:

Post a Comment