Monday, June 15, 2015

Pertarungan Antara Capung dan Monyet

Blog Iman Prabawa - Ketika bangsa capung melawan bangsa monyet, siapakah yang akan keluar sebagai pemenang? Ternyata, tak selamanya yang kecil itu lemah, dan yang besar selalu paling kuat.

Suatu hari, seekor capung mungil terbang dari Pulau Luzon, wilayah paling utara di Kepulauan Filipina, ke arah selatan, yakni Mindanao. Karena sayap-sayapnya yang kecil, capung tersebut sudah tertinggal jauh dari teman dan keluarganya. Apalagi, cuaca ketika itu sangat panas. Matahari bersinar terik di langit dan cahayanya memanasi sekujur tubuh si capung mungil itu. Ia pun kepanasan dan kelelahan.

"Aduh panasnya!", kata capung mungkil. "Lebih baik aku mencari tempat untuk beristirahat dahulu, karena perjalananku masih jauh." Maka capung tersebut terbang rendah di atas hutan, mencari di tempat teduh untuk bernaung. Tak lama, ia melihat sebuah pohon beringin yang besar dan rindang. Capung mungil itu mendarat di salah satu cabang pohon, dan berteduh di bawah daun-daunnya.

Udara di sana sangat sejuk. Sang capung pun beristirahat dengan nikmat. Tanpa ia ketahui, ada sejumlah monyet yang hidup di pohon beringin itu, dan mereka merasa terusik melihat kehadiran serangga kecil itu di rumah mereka.


Ketika capung mungkin tengah tidur-tiduran di atas sehelai daun, ia tiba-tiba mendengar bunyi gemerisik di antara dedaunan. Hewan tersebut segera bangun dan mengambil sikap waspada, tapi ia belum bisa melihat dari mana bunyi itu berasal.

"Si-siapa di situ?" tanya capung mungil sambil mengawasi sekitar. Semerisik daun kembali terdengar, lalu keluarlah seekor monyet yang ukurannya cukup besar. Ia berjalan mendekati si capung mungkil, tubuhnya menjulang di atas serangga kecil tersebut.

"Hei, hewan kecil!" kata monyet tersebut dengan tidak senang. "Apa yang kamu lakukan di pohon ini? Ini rumah kami, para monyet. Kamu sudah melanggar batas wilayah! Sebaiknya kamu pergi dari sini, daripada kamu nanti mengganggu ketenangan kami."

Capung mungil gemetar mendengar hardikan monyet. Namun karena ia benar-benar kelelahan, capung tersebut mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk menghadapi si monyet.

"Tuan monyet yang baik, " jawab capung mungil itu, "Saya mohon ijinkanlah beristirahat sejenak di pohon ini. Tidak lama kok. Saat matahari terbenam dan udara kembali sejuk, saya akan pergi. Saya harus terbang jauh hari ini, dan sayap-sayap saya terlalu lelah."

Mendengar itu, bukannya merasa kasihan, sang monyet malah mengejek, "Apa? Sayap-sayapmu kelelahan? Hahaha! Kamu kira kami akan percaya dengan alasanmu itu?" cemooh sang monyet.

Ketika capung mungil tak menjawab, monyet itu kembali berbicara, "Kami justru semakin yakin untuk mengusirmu dari sini karena tidak ada tempat bagimu di pohon beringin yang indah ini. Kami tidak akan mau berbagi ruang dengan makhluk kecil dan lemah seperti kamu," maki monyet tersebut tanpa ampun.

"Ayo, pergi dari sini. Sekarang!" usir monyet. Saat melihat capung mungil tak bergerak, monyet mematahkan satu dahan pohon dan menyorongkannya ke arah capung, seakan-akan dahan itu adalah sebilang pedang.

"Tolong, jangan sakiti saya," kata capung mungil dengan takut. Tapi, permohonannya tak digubris. Malah, monyet itu semakin berani. Ia kini melemparkan dahan pohon yang dipegangnya ke arah capung malang itu.

Beuntung, meski tubuhnya kecil, capung adalah hewan yang gesit. Sebelum dahan pohon yang dilemparkan monyet mengenai tubuhnya, si capung mungil segera melesat tinggi. Sayapnya sudah kuat kembali untuk dibawa terbang, dan kini ia bia melanjutkan perjalanannya.

Ketika akhirnya sampai di rumah, capung mungil langsung disambut teman-teman dan keluarganya. Mereka ingin tahu, mengapa capung mungil terlambat sampai, tak terkecuali raja capung. Maka capung mungil bercerita mengenai apa yang dilakukan monyet di pohon beringin kepadanya.

Saat raja capung mendengar apa yang telah terjadi, ia marah. Sang raja pun memutuskan bahwa para capung harus menuntut permintaan maaf dari para monyet. Untuk itu, ia mengutus tiga prajuritnya untuk bicara kepada raja monyet.

Prajurit capung pun terbang menuju pohon beringin di tengah hutan. Setibanya di sana, mereka menghadap raja monyet. "Wahai Raja, salah satu rakyatmu telah memperlakukan rakyat kami dengan tidak baik. Kami ingin kalian meminta maaf, atau kami akan menyatakan perang dengan kalian," tegas prajurit capung.

Mendengar ini, raja monyet tertawa terbahak-bahak, "Apa? Perang? Apa kamu tidak salah? Katakan pada raja kalian bahwa kami tidak sudi minta maaf kepada capung. Ke sini saja kalau berani dan kita lihat siapa yang menang!"

Prajurit capung tahu, memenangkan perang melawan bangsa monyet yang jauh lebih besar dari mereka akan sulit. Karena itu, mereka berkata, "Tuan, Anda tidak boleh sombong. Kita tidak pernah tahu apa yang bisa terjadi. Anda cukup minta maaf, dan perang tidak perlu terjadi!"

Apa reaksi raja monyet? Ia malah menghentakkan kaki dengan kesal, lalu berseru kepada prajurit capung, "Pergi sekarang juga dan beri tahu raja kalian bahwa bangsa monyet dan bangsa capung akan berperang!"



Apa boleh buat. Para prajurit capung terbang kembali ke raja mereka dan mengabari jawaban dari raja monyet. Akhirnya, raja capung memerintahkan seluruh prajuritnya untuk bersiap-siap, kemudian mereka semua terbang ke pohon beringin di tengah hutan.

Para capung terbang secepat mungkin, dalam formasi rapat, menuju pohon beringin. Mereka tidak membawa senjata apa pun, kecuali sayap-sayap yang mereka miliki. Sebaliknya, pasukan monyet memperlengkapi diri mereka dengan dahan-dahan pohn yang tajam.

Ketika pasukan capung hampir sampai di pohon beringin, raja monyet yang melihat kedatangan searangga tersebut segera berseru, "Serang! Serang mereka tanpa ampun dengan dahan pohon!"

Sementara itu, raja capung yang terbang paling depan memerintahkan para prajurit di belakangnya: "Terbanglah ke arah monyet-monyet tersebut dan mendaratlah di dahi mereka!'

Saat pasuka capung semakin dekat, mereka melihat para monyet mulai melompat-lompat sambil mengayun-ayunkan dahan pohon. Sesuai perintah raja, para prajurit capung terbang lurus dan cepat ke arah para monyet, lantas mendarat di dahi mereka.

Monyet-monyte langsung mengayunkan dahan pohon ke arah kening mereka sendiri, dan ketika itu juga, para prajurit capung segera melesat secepat kilat. Akibatnya, monyet-monyet itu menusuk dahi mereka sendiri dengan dahan pohon yang tajam. Satu per satu, mereka roboh ke tanah.

Demikianlah cara capung yang kecil memenangkan pertarungan melawan bangsa monyet. Dan sejak saat itu, makhluk-makhluk di hutan belajar untuk menghormati sesama bukan dari ukuran tubuh mereka, melainkan kecerdikan dan kegesitan.

Cerita ini dari dongeng Filipina dan saya ambil dari majalah Media Kawasan bulan Juni 2015.


Baca juga :
  1. Sang Pangeran dan Pengalaman Terbaiknya
  2. Pelajaran Berharga Bagi Si Pemalas
  3. Cerita Seorang Ayah Yang Bijaksana